TOPENG : Sebuah Fiksi
Perkenalkan, seorang aku yang lebih pantas menjadi orang lain. Bahkan aku lupa bagaimana seharusnya aku yang sebenarnya. Seorang aku yang mengidap depresi berat. Aku tidak berpura-pura, atau mengasihani diriku sendiri dengan mengaku-ngaku depresi. Sebenar-benarnya yang aku alami sebab aku sudah mendapat diagnosis itu. Seiring berjalannya hari, bukannya penyakit itu sembuh, melainkan bertambah parah. Aku yang tak kunjung membaik sebab lingkunganku terlalu jahat, mereka melihatku sebagai manusia yang aneh, yang suka menampakkan ketidakjelasan tanpa henti.
Aku tidak tahu harus memulai dari mana, untuk begitu banyak rangkaian kisah yang ingin aku bagikan. Aku tidak begitu banyak mengingat kejadian-kejadian di masa kecilku. Yang aku ingat, amat sangat sedikit makna kebahagiaan yang benar-benar dapat aku nikmati sejauh aku bernafas sampai saat ini.
Seorang aku, hidup di lingkungan dengan keluarga tanpa memiliki pondasi yang cukup kokoh untuk disinggahi. Ditempa badai angin pun sudah langsung roboh. Orang tua yang sibuk dengan dirinya masing-masing, saudaraku yang sibuk dengan teman-temannya, sedang aku? Manusia introvet yang amat sangat selektif terhadap orang-orang di luar lingkungan rumahku. Meskipun aku punya Tuhan, tetap saja sewaktu-waktu aku membutuhkan orang lain untuk katarsis. Sekali aku menemukan yang cocok, mereka berkhianat.
Jadilah aku hidup dengan selalu memendam. Permasalahan apapun tidak pernah aku ceritakan ke siapapun itu, termasuk orang tua bahkan saudaraku sendiri. Rasanya percuma. Aku selalu penuh dengan tekanan-tekanan yang setiap hari tumbuh perlahan, dan pada waktu yang tidak pernah aku tahu kapan itu, ia akan menumpuk menjadi kebencian.
Usiaku menginjak akhir belasan, ibarat fisik yang semakin tua semakin melemah, sedang aku semakin tua semakin banyak yang harus dipendam, tetapi tempat pendaman itu terlalu kecil untuk menyimpan permasalahan di puluhan tahun kedepan, pada akhirnya aku membutuhkan tempat lagi. Lalu aku harus kemana?
Aku tidak tahu harus memulai dari mana, untuk begitu banyak rangkaian kisah yang ingin aku bagikan. Aku tidak begitu banyak mengingat kejadian-kejadian di masa kecilku. Yang aku ingat, amat sangat sedikit makna kebahagiaan yang benar-benar dapat aku nikmati sejauh aku bernafas sampai saat ini.
Seorang aku, hidup di lingkungan dengan keluarga tanpa memiliki pondasi yang cukup kokoh untuk disinggahi. Ditempa badai angin pun sudah langsung roboh. Orang tua yang sibuk dengan dirinya masing-masing, saudaraku yang sibuk dengan teman-temannya, sedang aku? Manusia introvet yang amat sangat selektif terhadap orang-orang di luar lingkungan rumahku. Meskipun aku punya Tuhan, tetap saja sewaktu-waktu aku membutuhkan orang lain untuk katarsis. Sekali aku menemukan yang cocok, mereka berkhianat.
Jadilah aku hidup dengan selalu memendam. Permasalahan apapun tidak pernah aku ceritakan ke siapapun itu, termasuk orang tua bahkan saudaraku sendiri. Rasanya percuma. Aku selalu penuh dengan tekanan-tekanan yang setiap hari tumbuh perlahan, dan pada waktu yang tidak pernah aku tahu kapan itu, ia akan menumpuk menjadi kebencian.
Usiaku menginjak akhir belasan, ibarat fisik yang semakin tua semakin melemah, sedang aku semakin tua semakin banyak yang harus dipendam, tetapi tempat pendaman itu terlalu kecil untuk menyimpan permasalahan di puluhan tahun kedepan, pada akhirnya aku membutuhkan tempat lagi. Lalu aku harus kemana?
Komentar
Posting Komentar