MENJADI PENULIS?
Saat SMP, aku ingin sekali menjadi penulis. Aku banyak menulis mulai dari prosa, puisi, cerpen, cerbung, sampai novel yang tak kunjung jadi. Bahkan novel yang pernah aku buat sudah mencapai sekitar 50 halaman word, tapi entah kenapa, folder di laptopku terhapus. Aku ingin suatu saat, cover buku-buku yang tersebar diberbagai toko besar, ada ruang kesempatan untuk tertera namaku. Beranjak SMA, aku semakin rajin menulis. Aku juga mengikuti perlombaan cipta puisi, meskipun kalah tapi kesempatan itu aku dapatkan. Menginjak kuliah semester awal, aku mencari informasi-informasi lomba menulis, meskipun tidak ada yang masuk hingga 3 besar tapi lagi-lagi kesempatan itu aku dapatkan.
Banyak yang memuji, mulai dari tulisanku yang keren, berbakat menjadi seorang penulis, begitupun saat aku membaca cerpen ciptaanku di depan kelas aku mendapatkan pujian, lalu pernah bertemu dengan ustadz Maulana di suatu acara, saat beliau menanyakan cita-citaku, dengan spontan aku menjawab penulis di depan ribuan orang, bahkan salah temanku menganggap status yang aku posting si facebook adalah hasil curian dari google haha.
Tapi pujian itu lenyap seketika saat orang tuaku tidak mendukungku dengan penuh. Bahkan saat mendaftarkan diri di jurusan sastra indonesia, beliau bilang "mau jadi apa?" Maka itu, aku taruhlah di urutan terbawah setelah jurusan psikologi. Tapi, Tuhan membuat skenario baru,meskipun tidak ada sedikit saja kesempatan untukku mendalami ilmu sastra, setidaknya psikologi cukup menarik perhatianku.
Betapa menyebalkannya aku hanya dengan tentangan itu, aku mengubur dalam-dalam harapan yang jika kutekuni 3-4 tahun saja, bisa jadi cita-cita itu akan terwujud. Meskipun sesekali semangatku tumbuh, tapi tidak menjadikan niat itu benar-benar aku lakukan. Banyak sekali perlombaan-perlobaan menulis yang disebar di sosial media tapi entah kenapa hal itu tidak sama sekali membuatku tertarik lagi.
Aku sama sekali tidak menyalahkan orang tuaku, sebab keputusan memang selalu ada di dalam diri kita. Tapi ketika aku menjadi orang tua, jika Allah mengijinkan. Aku tidak akan melarang sedikitpun apa yang diinginkan anakku selagi hal yang dilakukan positif dan bermanfaat untuk orang lain. Terserah saja, apa yang salah dengan pemain bola? pemain musik? atlet? penulis? selagi si anak senang-senang saja dan bisa membuat dia bahagia, tidak ada alasan untuk tidak mendukung sampai ia mencapai titik suksesnya.
Banyak yang memuji, mulai dari tulisanku yang keren, berbakat menjadi seorang penulis, begitupun saat aku membaca cerpen ciptaanku di depan kelas aku mendapatkan pujian, lalu pernah bertemu dengan ustadz Maulana di suatu acara, saat beliau menanyakan cita-citaku, dengan spontan aku menjawab penulis di depan ribuan orang, bahkan salah temanku menganggap status yang aku posting si facebook adalah hasil curian dari google haha.
Tapi pujian itu lenyap seketika saat orang tuaku tidak mendukungku dengan penuh. Bahkan saat mendaftarkan diri di jurusan sastra indonesia, beliau bilang "mau jadi apa?" Maka itu, aku taruhlah di urutan terbawah setelah jurusan psikologi. Tapi, Tuhan membuat skenario baru,meskipun tidak ada sedikit saja kesempatan untukku mendalami ilmu sastra, setidaknya psikologi cukup menarik perhatianku.
Betapa menyebalkannya aku hanya dengan tentangan itu, aku mengubur dalam-dalam harapan yang jika kutekuni 3-4 tahun saja, bisa jadi cita-cita itu akan terwujud. Meskipun sesekali semangatku tumbuh, tapi tidak menjadikan niat itu benar-benar aku lakukan. Banyak sekali perlombaan-perlobaan menulis yang disebar di sosial media tapi entah kenapa hal itu tidak sama sekali membuatku tertarik lagi.
Aku sama sekali tidak menyalahkan orang tuaku, sebab keputusan memang selalu ada di dalam diri kita. Tapi ketika aku menjadi orang tua, jika Allah mengijinkan. Aku tidak akan melarang sedikitpun apa yang diinginkan anakku selagi hal yang dilakukan positif dan bermanfaat untuk orang lain. Terserah saja, apa yang salah dengan pemain bola? pemain musik? atlet? penulis? selagi si anak senang-senang saja dan bisa membuat dia bahagia, tidak ada alasan untuk tidak mendukung sampai ia mencapai titik suksesnya.
😍 semangaat Awanda
BalasHapus