LGBT Bisakah disembuhkan? Virus atau sebuah gerakan penularan?
Selama di Jogja, selain sibuk dalam urusan kuliah, aku selalu tertarik mencari-cari
kegiatan semacam seminar yang tidak dipungut biaya namun bisa pulang dengan
membawa perut yang sudah diisi dengan makanan nan mengenyangkan, juga dapat
secarik sertifikat yang nantinya jika sudah terkumpul banyak mungkin akan aku
pajang di dinding kamar kostku sebagai rasa bangga atas apa yang selama ini pernah
aku lakukan. Semacam benar-benar terlihat licik yaa.
Nah, sebuah pengantar yang sebenarnya sangat tidak penting. Abaikan saja. Aku sedang tidak ingin membahas tentang motif aku tertarik mengikuti berbagai macam seminar atau apalah, namun kali ini aku akan membahas materi yang sangat menarik ketika aku mengikuti salah seminar yang diisi oleh pemateri yang cukup handal.
Nah, sebuah pengantar yang sebenarnya sangat tidak penting. Abaikan saja. Aku sedang tidak ingin membahas tentang motif aku tertarik mengikuti berbagai macam seminar atau apalah, namun kali ini aku akan membahas materi yang sangat menarik ketika aku mengikuti salah seminar yang diisi oleh pemateri yang cukup handal.
Aku akan membagi ilmu yang sudah aku dapatkan saat itu. Kasus yang kerap kita jumpai di zaman yang semakin maju ini. Tentang LGBT. Apakah ia sebuh virus atau sebuah gerakan penularan? Lalu apakah sesuatu itu bisa disembuhkan? Baik, mari kita ulas lebih dalam lagi.
LGBT ini sudah ada sejak tahun 1960an, hanya saja pada saat itu namanya bukan LGBT, namun homoseksual. Saat ini, LGBT kembali menimbulkan kontraversional, khususnya di berbagai kalangan masyarakat Indonesia. Ada yang memberikan ruang terhadap mereka, ada yang menolak mentah-mentah kehadiran mereka, bahkan ada juga yang tak menghiraukan sedikitpun tentang LGBT ini.
Kita semua tau bahwa LGBT merupakan singkatan dari ;
Lesbian (tertarik sesama perempuan)
Gay (tertarik sesama laki-laki)
Biseksual (tertarik kedua-keduanya)
Transgender (ingin menjadi jenis kelamin yang
berbeda)
Lalu mengapa LGBT menjadi tren?
Lalu mengapa LGBT menjadi tren?
Seiring
bertambahnya waktu, LGBT bukan lagi perilaku pribadi sehingga mereka mulai
melakukan secara terang-terangan, ditambah lagi saat ini sudah adanya gerakan
yang terorganisir. Sehinnga mereka tidak malu lagi untuk menunjukkan identitas
aslinya kepada orang lain.
Lalu bagaimana pandangan mengenai LGBT dilihat dari berbagai aspek :
Lalu bagaimana pandangan mengenai LGBT dilihat dari berbagai aspek :
- Kultur Sosial
Diterima atau tidaknya LGBT tergantung bagaimana masyarakat yang menilai atau mempersepsikannya. - Asosiasi Psikologi Amerika
Menghapus sejak tahun 1973 dari daftar gangguan jiwa. Mereka menganggap bahwa homoseksual tidak bermasalah dan tidak menganggu orang lain. - Sudut Pandang Ilmiah
Penyakit HIV/AIDS berkembang dari LGBT. Hubungan sesama jenis akan mudah terjangkit penyakit HIV/AIDS karena saluran yang tidak tepat akan mudah menimbulkan luka, dan mudah rapuh sehingga kemungkinan mereka mengalami penyakit HIV/AIDS juga akan semakin mudah. - Sudut Pandang Agama
Jelas bahwa semua agama melarang hubungan sesama jenis meskipun hukuman yang diterima dari sudut pandang setiap agama berbeda-beda. Dalam islam sendiri, hukumannya meliputi dunia dan akhirat.
Adapun faktor yang menjadi pemicu atau menyebabkan LGBT ini bisa teradi,
salah satunya adalah ;
1.
Biologis
Hormonal, genetis. Dari segi biologis, genetis menjadi
faktor penyebab munculnya LGB, namun faktor memiliki kemungkinan yang sangat
kecil.
2.
Psikologis
Kesombongan. Contohnya adalah narsisme. Narsisme
sendiri merupakan bagian dari penyakit hati, dimana mereka terlalu mencintai
dunia secara berlebihan dan takut akan kematian. Narsisme ingin dirinya dipuji,
love self yang berlebihan, dan takut akan hinaan.
3.
Sosial
Broken home, kekerasan fisik, seksual, psikologis.
4.
Spiritual
Pengingkaran terhadap hukum Allah.
5.
Penyebab yang lain
Orang tua sibuk, pola asuh yang tidak benar, bullying,
trauma masa lalu (penyebab paling banyak), pelecehan seksual, terlalu jenuh
dengan pasangan berbeda jenis, terlalu sering berkumpul dengan sesama jenis,
fisik mental spiritual tidak sejalan.
Ada hal yang harus kita ketahui bahwa hingga saat ini terdapat 200 organisasi LGBT di Indonesia. Bayangkan saja jika terdapat 200 individu dalam satu organisasi? Ada berapa banyak individu yang terlibat dalam LGBT tersebut? Namun sebenarnya penderita LGBT, mereka tidak semestinya didiskriminasi.
Dalam psikologi, LGBT bisa disembuhkan dengan melakukan hipnoterapi. Namun, harus didasari pada niat dan usaha. Jika mereka tidak ingin sembuh, maka mereka tidak akan sembuh. Tetapi jika mereka memiliki inisiatif untuk sembuh, maka hipnoterapi bisa membantu dalam proses penyembuhan LGBT.
Ada hal yang harus kita ketahui bahwa hingga saat ini terdapat 200 organisasi LGBT di Indonesia. Bayangkan saja jika terdapat 200 individu dalam satu organisasi? Ada berapa banyak individu yang terlibat dalam LGBT tersebut? Namun sebenarnya penderita LGBT, mereka tidak semestinya didiskriminasi.
Dalam psikologi, LGBT bisa disembuhkan dengan melakukan hipnoterapi. Namun, harus didasari pada niat dan usaha. Jika mereka tidak ingin sembuh, maka mereka tidak akan sembuh. Tetapi jika mereka memiliki inisiatif untuk sembuh, maka hipnoterapi bisa membantu dalam proses penyembuhan LGBT.
Cara melakukan hipnoterapi :
- Ketika berada dalam alam bawah sadar, mereka di ajak kemali ke masa lalu untuk mencari akar permasalahan yang menjadi penyebab terjadinya LGBT.
- Setelah itu, permasalahan yang ada diurai satu per satu.
- Lalu mereka di ajak untuk memaafkan, menetralisir, mengoreksi, menceritakan, dan menyesuaikan keadaan.
- Tahap pengujian (Jika belum sembuh maka diulangi dengan lebih rinci). *Reaktivitas dari terapi ini terjadi setelah bangun dari tidur. Namanya saja terapi, jadi tidak cukup jika hanya dilakukan dengan satu kali saja. Biasanya dibiarkan dulu hingga 3 sampai 7 hari. Setelah itu, mereka akan di uji lagi.
- Menguji kesembuhan. Jika sembuh, maka terapi selasai.
Dalam perspektif islam menyatakan bahwa LGBT bukanlah termasuk dalam
penyakit jiwa, namun merupakan penyakit hati. Dimana Psikologi Islam lebih
menitikbertakan pada perilakunya yang bertentangan dengan hati dan akal.
Perspektif Islam menyatakan bahwa LGBT merupakan ujian, dimana ada alternafit
lain selain melakukan hipnoterapi dalam proses penyembuhan, yaitu dapat
dilakukan dengan cara bertaubat nasuha.
Jadi, LGBT merupakan penyakit yang harus disembuhkan. Adapun kita sebagai
manusia normal tidak boleh mendiskriminasi penderita LGBT. Ketika dia memiliki
niat untuk sembuh, maka kita harus dengan senang hati untuk merangkul pun
menduung niat baik para penderita. Namun ketika dia pasrah dalam keadaan yang
semestinya salah, kita harus bisa menjaga jarak dan mengatakan bahwa “jangan mempengaruhi
saya untuk masuk ke duniamu”.
Komentar
Posting Komentar