An Introduction

Namaku Awanda Erna. Sejak kecil aku dipanggil dengan sebutan Wanda. Panggilan itu selalu melekat hingga saat ini. Bisa dibilang aku hanya menumpang lahir di sebuah daerah kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, namun hidup menetap selama hampir 18 tahun di pulau paling besar di Indonesia, Kalimantan. Tepatnya di Kotabaru, Kalimantan Selatan. Tempat yang kaya akan sumber alamnya, di sana penuh dengan berbagai macam sumber daya yang menggiurkan seperti batu bara, batu kapur, kelapa sawit, pohon karet, dan lain sebagainya.

Kata kawan-kawanku, nama Kotabaru itu ada filosofinya. Jadi, hampir setiap tahun bangunan-bangunan besar di kota kabupaten selalu terjadi kebakaran, seperti pasar tradisional, mall, di pelabuhan, rumah-rumah warga, dan bangunan lainnya. Dan kebakaran itu memang terjadi. Entah apakah nama adalah doa, atau memang karena sering terjadi kebakaran dinamakan Kotabaru, sebab bangunannya selalu baru terus.

Demi mengenyam pendidikan yang aku idam-idamkan meski bukan di kampus idaman, aku rela pergi jauh-jauh meninggalkan tempat yang telah mengemas banyak memori yang telah aku susun serapi mungkin. Bersamaan dengan itu, banyak juga memori yang ingin aku hapus dari hidupku. Itulah mengapa aku memutuskan untuk pergi, meskipun meninggalkan orang-orang tercinta. Sekarang aku tengah menempuh pendidikan S1 Psikologi di salah satu Universitas Negeri yang ada di Yogyakarta.

Jika ditanya "Kenapa memilih untuk mengambil jurusan Psikologi?", Aku selalu berfikir apakah ada penilaian benar atau salah atas sebuah pertanyaan yang menurutku sangat sulit untuk dijawab, karena aku selalu tidak bisa mendeskripsikan jawaban sesempurna mungkin. Awalnya aku ingin mengambil jurusan Sastra Indonesia. Tapi karena berbagai pertimbangan, akhirnya aku urungkan. Awalnya sulit, namun berjalannya waktu jurusan itu mulai menarik perhatianku, sulit digambarkan secara manifest.

Kuliah di Psikologi selalu dibebani oleh berbagai macam tugas yang tak kalah menantang, tugas yang selalu berkembang biak dan beranak pinak, juga dipenuhi dengan kuis yang terkadang datang secara mendadak, ditambah dengan kuliah lapangan, menyusun laporan, membuat makalah, dan tak pernah lepas dari adanya persentasi. Begitu seterusnya. Itu yang aku rasakan selama dua semester terakhir ini. Tidur dalam waktu 3 atau 4 jam perhari saja sesuatu yang harus disyukuri. Mungkin disitulah menariknya.

Kalau ada yang menyuruh "Baca pikiran aku dong" Aku hanya bisa tertawa dalam hati. Apa yang mau di baca? Pikiran bukan sesuatu yang bisa dibaca bak tulisan yang tertera diatas secarik kertas putih. Mungkin orang awam hanya memahami bahwa Psikolog itu adalah orang yang bisa membaca pikiran orang lain. Karena pada dasarnya kognitif mereka sudah terskema sedemikian rupa sehingga mereka tidak mau menyaring informsi yang didapatkan dari berbagai sumber. Padahal Psikologi tidak sesederhana itu.

Kembali ke awal, terkait dengan kebenaran yang sebenarnya bahwa dimanakah asalku yang sesungguhnya, Kalau ditanya, tidak menafik aku lebih suka menjawab "Banjarmasin" atau "Kalimantan" ketimbang harus menjawab "Sulawesi". Karena aku bertahan hidup selama  hampir 18 tahun di tempat itu. Bayangkan saja aku hidup bosan selama 18 tahun disana yang membuat aku ingin cepat-cepat pergi dari ruma. Aku mempercayakan Jogja untuk menjadi saksi dalam perjalan hidupku yang dimulai dari nol lagi.

Demikian yang dapat saya sampaikan, apabila ada salah kata dalam penulisan ini mohon dimaafkan. Sekian dan terimakasih. Kalimat penutup yang indah bukan?

Komentar